Ask me anything
The Warblers - When I get you alone.
Beside the fact that I’m sad for Kurt right now, Darren sings perfecty great and looks smoking hot! HNG!
Waktu sma, gw jadi anggota lingkaran atas detteksi, sebuah organisasi kekomputeran. Needless to say, gw dan lingkaran atas tersebut menjadi penguasa lab komputer sma dan needless to say lagi, salah satu kebijakan yang kami jalankan adalah memasukan game yang bisa dimainkan secara LAN kedalam setiap komputer lab kom. Pilihan pertama kami adalah counter strike, tapi pilihan yang lebih baik segera muncul: DotA.
DotA adalah sebuah game yang menuntut kecerdasan, improvisasi, insting, dan kelaki-lakian. Seriously, gw ga pernah liat perempuan yang main dota, kalaupun ada (iya, kamu! :p) mereka maennya jelek. Dan karena lelaki di kelas gw cuma delapan dan semuanya cerdas, improviser, berinsting tajam, dan kelaki-lakian, DotA segera menjadi permainan wajib kami. Setelah beberapa bulan bermain, setiap orang mulai memiliki peran. Gw disebut jendral, karena gw yang paling bagus dalam memainkan hero support, menyusun strategi, dan mengkoordinir pergerakan yang lain. Terus ada dua kapten, yang paling bagus dalam memainkan hero agility dan selalu jadi kartu truf kami untuk menang. Dan ada beberapa letnan yang perannya bervariasi mulai dari stunner, nuker, dan tumbal. We’re pretty good dan sangat kompak kalau udah war.
Kemudian… kita lulus.
Kemudian… kita mencar-mencar.
Kemudian… DotA menjadi benang terakhir yang menghubungkan kami.
Darn… ~_~
Sand Wraith, hero agility late. Well. I never been ‘that’ good with a late agility hero, gak punya cukup kesabaran untuk creeping terus-terusan sampe punya cukup uang buat bikin barang yang dibutuhkan. Tapi entah kenapa gw suka hero ini. Kesannya suram, berpasir, dan… keren. Suka ga berarti bisa makenya, tough.